0

SUARA HATI : DIA YANG BERMATA SENDU

senduuu

Awal mula pertemuan pun bisa selucu itu. Kita anggap sebagai pertemuan tak terduga, di ruang makan tempat dibinanya calon-calon pejuang Negara—ruang makan yang selama beberapa hari menjadi momok menakutkan mungkin bagi sebagian calon siswa, termasuk aku, aku yang sama sekali nggak bisa makan dengan cepat dan minum dengan air terbatas. Kadang aku berhasil menghabiskan makanan itu, tapi lebih sering menyusahkan orang-orang yang duduk di depan, samping kanan-kiriku, kalian apes berdampingan denganku hahaha, dan terima kasih untuk jiwa korsanya, kawan! Lalu, kamu pun muncul. Aku nggak ingat itu hari ke berapa persisnya, pagi hari yah seperti biasa makan dengan cepat seperti 5 menit lagi dunia akan hancur jika kami semua tidak berhasil menghabiskan makanan yang ada di hompreng dingin macam mayat itu. Bisa tebak dong seperti apa aku? Susah payah tetap masukkan nasi ke dalam mulut, mulut yang gembungnya melebihi ikan buntal dengan mata yang berkaca-kaca karena susah payah menahan mual, mau minta tolong, nggak mampu juga karena mulut penuh. Teman depan, kiri-kanan kebetulan dapat yang apatis :(, tiba-tiba muncul sendok yang ambil sisa nasi di hompreng ku dari arah serong depan, ya, kamu dengan santainya makan dan aku tetap dengan mulut penuh sambil liat siapa yang ambil nasi. Kita cuma makan sambil saling pandang sesekali. Makan pagi selesai, barisan di meja makan bubar, dan aku nggak sempat ucapin terima kasih sama kamu.

Waktu terus berjalan. Makan siang tiba, dan aha! Kali ini kamu duduk persis di depanku, kebetulan yang nggak terduga. Ya, selanjutnya mirip-mirip di atas lah. Jadwal makan malam pun tiba, itu kan kalau masuk selalu berbaris dan jarang perhatiin siapa yang di belakang kita, soalnya kalau ada gerakan tambahan bakal ditindak, ngeri nggak tuh! Tapi aslinya nggak ada yang dibawa sakit hati sih, soalnya jadi cerita lucu, dan kalau nggak kayak gini bisa jadi kita nggak ketemu juga dong, hehe. Pas menghadap ke arah hompreng dingin itu, noleh arah kiri dong aku, daaaaannnn… astaga, dia lagi, kataku dalam hati dan langsung balik lagi liat depan. Makan dimulai, aku usaha dulu lah buat makan biarpun tetap dengan mulut gembung ikan buntalnya, masih usaha dan usaha, tanpa dimintai tolong kamu langsung salin sisa nasi ku ke homprengmu dengan ekspresi yang nggak terbaca sebenarnya. Nggak tega liat kamu makan dengan porsi nasi yang banyak gitu, ya sekalian aja aku kasih lauk yang aku punya dengan maksud imbang antara nasi dengan lauknya, kalo dipikir-pikir sekarang aku nambah beban kamu sebenarnya :(. Sebelum akhiri doa makan malam, aku sempat berbisik ke teman sampingku yang kebetulan satu barak juga, “Cowok yang di samping aku dari tadi pagi bantuin aku makan, loh.” Bisikku pelan.

“Serius? Kok bisa? Jangan-jangan nanti kalian ada sesuatu nih.” Ledek temanku.

Aku nyubit pinggang dia sambil jawab, “Nggak lah, paling dia jauh di bawah aku.” Selorohku sambil tahan tawa. Yang akhirnya tahu kalo kita sebaya, yeay! asal kamu tahu, sadar atau nggak, kamu punya wajah tipe baby face, gimana gak salah duga di awal aku nya >.<

Doa makan malam usai, menjelang berdiri, untuk pertama kalinya dalam sehari itu akhirnya aku ucapin terima kasih.

 

****

“Ini kalo dibantuin cowok lain makan bakal ganti haluan gak?

“Serius naksirnya gara-gara bantu habisin makan di hompreng?”

“Mau bantu dan godain kamu tetetp aja hatinya untuk yang di lembah pinus,”

Sebagian dari banyaknya pertanyaan yang usil datang ke aku. Iya, aku dibully. Tapi aku memohon ke mereka, cukup bully aku aja, jangan imbasnya ke kamu, tahu kenapa? Aku takut gara-gara kaya gini kamu gak nyaman, terus kamu jauhi aku. Menyedihkan banget gak sih kalo berteman dengan kamu pun gak bisa 😦 :(.

Cerita hompreng atau berbagi nasi itu cuma bagian ceritanya. Dipikir-pikir kayanya aku tertarik sama kamu waktu pertama kali dari sekian waktu pasca hompreng, akhirnya kita jumpa lagi. Duduk berdampingan. Aku sadar itu kamu, kamu penyelamat makan aku. Gejolak batin terjadi dong, senyum gak ya? Sapa gak ya? Ntar kalo disenyumin gak dapat respon gimana? Teriakku heboh sendiri, dalam hati tentunya dan berujung aku cuma membisu natap ke arah depan. Kamu menoleh ke arah aku dan aku balas liat.

“Kamu yang di ruang makan Pusdikkes, ‘kan?” tanyamu. Asdfghjklljhjklllllll senangnya hati iniiii, dia ingat,dia ingat. Buseeettt…padahal kan dia pasti banyak dan pernah bantuin yang lain makan→ ini kata hati dengan kalimat defensif mana tau aku keGeEran sendiri -_-.

“Iya,” jawabku.

“Aku pikir kamu lupa,” jawabmu lagi, dan pertama kalinya aku lihat dengan jelas wajah kamu dan tatap matamu yang sendu. Sorot mata yang aku suka.

“Ingat, ingat. Makasih banyak yaaa.” Kataku sambil ketawa.

“Jadi aku panggil kamu apa nih?” Tanya ku, aku sebutin panggilan aku sambil tunjukin nametag.

“Kok kamu curang sih, abis tahu nama aku kamu gak kenalin diri.” Kamu ulurkan tangan buat jabat tangan, aku terima uluran tangan kamu dan kamu cuma senyum tanpa ngomong dan tetap natap sendu. “Ah, modus nih. Kamu malah diam lagi,” aku langsung ambil nametag kamu, bacain baik-baik, dan malam itu akhirnya aku tahu nama kamu. ♡♡

Kita mulai ngobrol-ngobrol lagi dan tetap yang kamu bahas soal makan abis kita bahas penempatan masing-masing. “Kalo di Sulawesi gak abis makannya, segera hubungi aku yang di Aceh ini ya,” astaga, mungkin ini candaan remeh untuk sebagian orang tapi tapi…. Hahhaha, mau hubungi pun paling bisa bantu doa haha, tapi diakui makanan Sulawesi enak-enak, jadi sejauh ini mampu urusan makan bisa mandiri dan gak di bawah tekanan juga jadi gak perlu lapor lah sama kamu >.<

“Yaelah, aku telepon pun terus makanannya dikirim ke Aceh yang ada nanti basi membusuk.” Ketawa lah kita bareng-bareng, untuk pertama kalinya dengan waktu yang singkat.

Kalau boleh waktu diputar ulang, kenapa nggak waktu habis kenal secara resmi itu besoknya bertukar surat ya, biar surat manisnya banyak dan bahan obrolan kita ada terus. Kamu tahu, surat pertama dari kamu itu menggegerkan teman-teman sekamarku, kamar 212 yang menjadi saksi dan rebutan surat kamu untuk ditempeli ke dinding. Omong-omong surat manisnya ikut jalan-jalan ke Sulawesi bareng aku.

Kamu tahu, ekspektasi tinggi hampir bikin aku frustasi. berharap kamu minta nomor aku atau apapun itu, nyatanya gak ada, belum sih tepatnya dan memang bertukar nomor ponsel akhirnya J, jadi pas ada beberapa cowok yang minta nomor ponsel ku, aku langsung cranky setengah mati, “kok malah kamu yang minta nomorku, sih? Gak mau kasih, ah!” kataku ketus. Yang akhirnya aku kasih juga karena mereka pembelaan untuk grup dan banyak alasan pokoknya, kasihan mereka sih sebenarnya gak ngerti apa-apa, haha. Dimalam inagurasi coba aku gak batuk waktu kamu tawarin makan es krim, pasti gak nasi aja yang berbagi tapi nambah jadi berbagi es krim juga, belum lagi kamu minta maaf karena lupa aku batuk sambil mengelus pundakku, kamu pria yang manis memang♡.

Ada banyak hal yang ingin aku tahu tentang kamu, tapi aku takut salah langkah. Jadi semuanya tetap dibawa santai dan ikuti alur aja. Aku pun penasaran, apakah berlaku hal yang sama nggak dengan kamu? Penasaran banyak nggak tentang aku? Yang itu cuma kamu, pikiranmu dan Tuhan yang tahu.

Apa yang paling aku rindukan dari kamu? Jawabannya, lihat mata kamu yang sendu sama senyum simpul yang manis itu, sesederhana itu.

Harapan ke depannya?

Semoga kamu nggak lupa aku, gak sombong dan kayak pesan di hari akhir yang kamu bilang, tetap saling menghubungi aja itu udah goal buat aku, yang sejauh ini masih terjaga dan semoga selanjutnya tetap seperti ini.

Teruntuk kamu, selamat mengabdi dan menjalankan tugas dengan baik di daerah penempatanmu.

 

 

Xoxo,

Pembuat Gemuk Pusdikkes